Judul “Ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan” memberi petunjuk adanya sesuatu
inheren, mungkin permasalahannya ialah adanya kontinuitas dan perubahan,
harmoni atau disharmoni. Tidak mustahil ketiga masalah ini akan melihat masa
lampau atau masa depan yang penuh dengan ketidakpastian, dan dapat melibatkan
perdebatan semantika. Keperluan sekarang adalah pengetahuan ilmiah yang harus
ditingkatkan karena pengetahuan, perbuatan, ilmu dan etika makin saling
bertautan. Berulang kali harus diambil keputusan dalam menerapkan secara
praktis pengetahuan ilmiahnya. Semuanya itu memperlihatkan suatu perpaduan dan
pertimbangan moral ilmiah. Dalam hal ini dipertanyakan bagaimana mengkaji
kemampuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan guna memanfaatkan sumber daya
alam, dan bagaimana memanfaatkan sumber daya untuk membasmi kemiskinan. Maka
usaha mulia berikutnya adalah untuk membuatnya operasional dalam rangka social
engineering-nya.
1. Ilmu Pengetahuan
Dikalangan ilmuwan ada
keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara
teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan tertentu dengan sistematis,
metodis, rasional, empiris, umum, dan akumulatif. Pengertian pengetahuan sebagai
istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam pandangan dan teori.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang
bersifat ilmiah. Bukan membahas tujuan ilmu, melainkan mendukung dalam mencapai
tujuan ilmu itu sendiri, sehingga benar-benar objektif, terlepas dari prasangka
pribadi yang bersifat subjektif. Sikap yang bersifat ilmiah itu meliputi empat
hal:
a. Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga
mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif.
b. Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap
problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan
pemilihan terhadap hipotesis yang ada.
c. Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak
dapat diubah maupun terhadap alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai
ilmu.
d. Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun
aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk
dibuktikan kembali.
Ilmu pengetahuan
sekarang menghadapi kenyataan kemiskinan yang pada hakikatnya tidak dapat
melepaskan diri dari kaitannya dengan ilmu ekonomi karena kemiskinan merupakan
persoalan ekonomi yang paling elementer, dimana kekurangan dapat menjurus
kepada kematian. Tetapi dilain pihak ekonomi sekarang berada pada puncak
kegemilangan intelektual, banyak menggunakan penilaian matematis dan usaha
pembuatan model matematis yang merupakan usaha yang amat makmur. Dalam hal ini
tentu ekonomi perlu menyajikan analisi yang relevan dengan kehidupan
sehari-hari dengan bermacam-macam kadar asumsinya sebab, apabila bertentangan
dengan nilai-nilai atau etika, akan memberi kesan sebagai suatu ilmu yang
mengajarkan keserakahan.
2. Teknologi
Dalam konsep yang
pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah dikatakan, bahwa
ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai suatu seni yang mengandung pengertian
berhubungan dengan proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber,
tanah, modal, tenaga kerja dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi
tujuan produksi. Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Sastrapratedja
(1980) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Rasionalitas, arinya tindakan spontan oleh teknik
diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional.
b. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang
buatan tidak alamiah.
c. Otomatisme, Artinya dalam hal metode, organiasi dan
rumusan dilaksanakan serba otomatis.
d. Teknis berkembang pada suatu kebudayaan
e. Meonisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi
dan saling bergantung.
f. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas
kebudayaan dan ideologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan.
g. Otonomi, artinya teknik yang berkembang menurut
prinsip-prinsip sendiri.
Teknologi yang berkembang
dengan pesat, meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Contohnya dengan
berkembang pesatnya teknologi komputer dan teknologi satelit ruang angkasa,
maka diperoleh pengetahuan baru dari hasil kerja kedua produk teknologi
tersebut. Luasnya bidang teknik, digambarkan oleh Ellul sebagai berikut:
· Teknik
meliputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang
industri.
· Teknik
meliputi bidang organisasi seperti administrasi, pemerintahan, manajemen,
hukum, dan militer.
· Teknik
meliputi bidang manusiawi, seperti pendidikan, kerja, olahraga, hiburan, dan
obat-obatan.
Teknologi tepat guna
sering tidak berdaya menghadapi teknologi barat, yang sering masuk ditunggangi
oleh segelintir orang atau kelompok yang bermodal besar. Ciri-ciri teknologi
barat tersebut adalah:
1) Serba Intensif dalam segala hal, seperti modal,
organisasi, tenaga kerja, dan lain-lain.
2) Dalam struktur sosial, teknologi barat bersifat
melestarikan sifat kebergantungan.
3) Kosmologi atau pandangan teknologi barat adalah
menganggap dirinya sebagai pusat yang lain feriferi, waktu berkaitan dengan
kemajuan secara linier, memahami realitas secara terpisah dan berpadangan
manusia sebagai tuan atau mengambil jarak dengan alam.
3. Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Nilai
Ilmu Pengetahuan dan
teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral. Hal besar perhatiannya
tatkala dirasakan dampaknya melalui kebijaksanaan pembangunan, yang pada
hakikatnya adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kaitan ilmu dan
teknologi dengan nilai atau moral, berasal dari ekses penerapan ilmu dan
teknologi sendiri. Dalam hal ini sikap ilmuwan dibagi menjadi dua golongan:
1) Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah
bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun secara
aksiologis, soal penggunaanya terserah kepada si ilmuwan itu sendiri, apakah
digunakan untuk tujuuan baim atau buruk.
2) Golongan yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu
bersifat netral hanya dalam batas-batas metafisik keilmuwan, sedangkan dalam
penggunaan dan penelitiannya harus berlandaskan pada asas-asas moral atau
nilai-nilai.
Rangkaian pengembangan
ilmu dan teknologi yang dimulai dengan penelitian dasar, penelitian terapan,
pengembangan teknologi dan penerapan teknologi, mau tidak mau harus dilanjutkan
dengan evaluasi ethis-politis-religius. Masyarakat seperti nilai dan moral,
sebab kurangnya kendali demikian konsekuensinya jauh lebih buruk. Upaya untuk
menjinakan teknologi diantaranya:
1) Mempertimbangkan atau kalau perlu mengganti kriteria
utama dalam menolak atau menerapkan suatu inovasi teknologi yang didasarkan
pada keuntungan ekonomis atau sumbangannya kepada pertumbuhan ekonomi.
2) Pada tingkat konsekuensi sosial, penerapan teknologi harus
merupakan hasil kesepakatan ilmuan sosial dari berbagai disiplin ilmu.
4. Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya
dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok.
Dikatakan dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, sandang, papan.
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal:
1) Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang
diperlukan
2) Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
3) Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara
manusiawi.
Kesemuanya dapat
tersimpul dalam barang dan jasa dan tertuangkan dalam nilai uang sebagai
patokan bagi penetapan pendapatan minimal yang diperlukan, sehingga garis
kemiskinan ditentukan oleh tingkat pendapatan minimal. Atas dasar ukuran ini
maka mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah,
modal, keterampilan, dsb.
b. Tidak memiliki kemungkina untuk memperoleh aset
produksi dengan kekuatan sendiri.
c. Tingkat pendidikan mereka rendah
d. Kebanyakan tinggal di desa pekerja bebas.
e. Banyak yang hidup di kota berusia muda dan tidak
mempunyai keterampilan.
Secara analog dapat
ditentukan pola-pola relasi dalam bidang ekonomi. Kesemuanya merupakan
substruktur atau subsistem dari struktur dan sistem kemasyarakatan yang berlaku
yang endasari masalah-masalah kemiskinan. Kalau kita menganut teori
fungsionalis dari statifikasi maka kemiskinanpun memiliki sejulah fungsi yaitu:
1) Fungsi ekonomi, penyediaan tenaga untuk pekerjaan
tertentu, menimbulkan dana sosial, membuka lapangan kerja baru, dan
memanfaatkan barang bekas.
2) Fungsi sosial, menimbulkan altruisme dan perasaan,
sumber imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi
keas dan merangsang munculnya badan amal.
3) Fungsi kultural, sumber inspirasi kebijaksanaan
teknokrat dan sumber inspirasi sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi
antar sesama manusia
4) Fungsi politik, berfungsi sebagai kelompok gelisah
atau masyarakat marginal untuk musuh bersaing bagi kelompok lain.
Walaupun kemiskinan
mempunyai fungsi, bukan berarti menyetujui lembaga tersebut. Tetapi, karena
kemiskinan berfungsi maka harus dicarikan fungsi lain sebagai pengganti ISD